Rabu, 19 Mei 2010

Ornamen Tradisional Khas Banjar


Ornamen sebagai suatu aspek seni rupa telah menga lami perkembangan yang cukup maju dalam budaya tradisional orang Banjar. Ornamen sebagai ragam hias banyak ditemukan di rumah-rumah adat Banjar dan karya seni ini ternyata tak hanya sebagai hiasan tetapi juga sar filosofi.

Ornamen dalam arsitektur tradisional Banjar dikenal dengan istilah Tatah yang berbentuk Tatah surut (ukiran berupa relief), Tatah Babuku (ukiran dalam bentuk tiga dimensi) dan Tatah Baluang (ukiran berlubang).
Dalam buku Arsitektur Tradisional Banjar Kalimantan Selatan, Drs H Syamsiar Seman, mengatakan, dalam sebuah rumah adat Banjar terutama tipe bubungan tinggi, gajah baliku dan palimbangan terdapat dua belas bagian bangunan yang diberi ornamen khas.

Pertama, pucuk bubungan berbentuk lancip yang disebut layang-layang. Layang-layang dalam jumlah yang ganjil (lima) dengan ukiran motif tumbuhan paku alai, bogam, tombak atau keris.
Pada rumah tipe palimasan ornamen berbentuk sungkul dengan motif anak catur, piramida dan bulan bintang. Ukiran jamang sebagai mahkota bubungan terdapat pada rumah adat tipe palimbangan, balai laki, balai bini dan cacak burung. Jamang dalam bentuk simetris ini biasanya bermotif anak catur dengan kiri kanan bermotif paku alai, halilipan atau babalungan ayam.

Kedua, tawing layar atau tampuk bubungan (penutup kuda-kuda). Terutama terdapat pada rumah adat Banjar tipe palimbangan, balai laki dan cacak burung (anjung surung) yang memiliki bubungan atap pelana dengan puncak depan yang tajam. Karena ruangannya terbatas, hiasannya pun tak banyak. Umumnya berupa bundaran yang diapit segitiga dalam komposisi dedaunan. Ornamen di sini selalu dalam komposisi simetris.

Ketiga, pilis atau papilis (listplank). Terdapat pada tumbukan kasau yang sekaligus menjadi penutup ujung kasau bubungan tersebut. Juga pada banturan (di bawah cucuran atap) serta pada batis tawing (kaki dinding) bagian luar. Banyak motif digunakan antara lain rincung gagatas, pucuk rabung, tali bapintal, dadaunan, dalam berbagai kreasi, kumbang bagantung (distiril), paku alai, kulat karikit, gagalangan, i-itikan, sarang wanyi, kambang cangkih, teratai, gigi haruan dan lainnya.

Keempat, tangga. Pada puncak tangga terdapat ornament buah nenas. Adapula motif kembang melati yang belum mekar, tongkol daun pakis, belimbing, manggis, payung atau bulan sabit. Pada panapih tangga biasanya terdapat motif tali bapintal, dadaunan, buang mingkudu dan sulur-suluran. Pada pagar tangga digunakan ukiran tali bapintal atau garis geometris, pada kisi-kisi pagar tangga digunakan motif bunga melati, galang bakait, anak catur, motif huruf S dan berbagai motif campuran.

Kelima, palatar (teras). Bagian depan rumah yang mendapat sentuhan ukiran pada jurai samping kiri dan kanan atas, batis tawing dan kandang rasi. Ornamen pada jurai bisasnya mengambil motif hiris gagatas, pucuk rabung, daun paku atau sarang wanyi. Pada batis tawing bermotif dadaunan, sulur- suluran atau buah mingkudu.

Keenam, lawang (pintu). Bagian-bagian lawang yang diberi ornamen adalah dahi lawang (bagian atas pintu, semacam ventilasi), berukiran tali bapintal dalam bentuk lingkaran bulat telur. Komposisi bagiannya dilengkapi dengan motif suluruluran dan bunga-bungaan dengan kaligrafi Arab antara lain bertulis Laa ilaaha illallah, Muhammadarrasulullah, Allah dan Muhammad.
Kemudian jurai lawang (ornamen mirip tirai terbuka), berbentuk setengah lingkaran atau bulan sabit dengan kombinasi tali bapintal, sulur-suluran, bunga-bunga dan kaligrafi Arab. Tulisan dengan bentuk berganda atau berpantulan dengan komposisi dapat dibaca dari arah kiri ke kanan dan arah kanan ke kiri.
Selanjutnya, daun lawang (daun pintu), selalu menempatkan motif tali bapintal, baik pada pinggiran kusen pintu, maupun hiasan bagian dalam, tali bapintal pada bagian dalam dalam bentuk bulat telur atau hiris gagatas. Keempat sudut daun lawang banyak ornament bermotif pancar matahari dengan kombinasi dedaunan, di antaranya motif daun jaruju.

Ketujuh, lalungkang (jendela). Umumnya menempatkan ornamen sederhana pada dahi atau pula daun lalungkang berupa tatah bakurawang dengan motif bulan penuh, bulan sahiris, bulan bintang, bintang sudut lima, daun jalukap atau daun jaruju.

Kedelapan, watun. Sebagai sarana pinggir lantai terbuka yang diberi ornamen pada panapih yaitu dinding watun tersebut. Ornamen biasanya untuk panapih watun sambutan, watun jajakan dan watun langkahan yang ada pada ruangan panampik kacil, panampik tangah dan panampik basar. Terdapat ukiran dengan motif tali bapintal, sulur-suluran, dadaunan, kambang taratai, kacapiring, kananga, kambang matahari, buah-buahan dan lainnya.

KeSembilan, tataban. Terletak di sepanjang kaki dinding bagian dalam ruang panampik basar. Ukiran di situ adalah pada panapih tataban tersebut. Umumnya sepanjang tataban tersebut mempergunakan ornamen dengan motif tali bapintal pada posisi pinggir. Motif lain pada dedaunan dan sulur-suluran dalam ujud kecil sepanjang jalur tataban tersebut.

Kesepuluh, tawing halat (dinding pembatas). Ornamen di dua daun pintu kembar ini harus seimbang dengan ragam hias. Biasanya motif tali bapintal tak ketinggal, buah dan dedaunan dengan kombinasi kaligrafi Arab.

Kesebelas, sampukan balok (pertemuan balok). Rumah adat Banjar tidak mengenal plafon, sehingga tampak adanya pertemuan dua balok pada bagian atas. Ukiran bermotif dedaunan dan garis-garis geometris.

Keduabelas, gantungan lampu. Balok rentang yang ada di atas pada posisi tengah dipasang pangkal tali untuk gantungan lampu. Sekeliling pangkal gantungan diberi ukiran bermotif dedaunan dan bunga dalam komposisi lingkaran berbentuk relief. (dea)


Artikel ini saya ambil dari salah satu harian terkemuka di Banjarmasin yaitu Banjar masin  Post sebagai Bahan referensi dan klipin digital saya, semoga juga bisa berguna bagi yang lain.

0 komentar:

Poskan Komentar